Rusia Berburu Harta Karun dalam Namibia

MOSKOW – Rosatom – Perusahaan Daya Atom Negara Rusia , salah satu perusahaan uranium terbesar pada dunia, telah lama menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk mencoba mendirikan tambang di tempat Namibia timur setelahnya negara itu mencabut larangan sementara penambangan uranium pada tahun 2017.
Perburuan uranium kerap dikaitkan dengan upaya menciptakan senjata nuklir. Apalagi, biaya uranium juga tergolong sangat mahal.
Anak perusahaan Rosatom, yang tersebut dikenal sebagai Headspring Investments, pada tahun 2011 mengusulkan untuk menggunakan metode pengeboran yang mana kontroversial untuk mengekstraksi uranium, yang tersebut dikenal sebagai penambangan “in situ”, yang dimaksud melibatkan penyuntikan larutan yang dimaksud mengandung asam sulfat ke di akuifer.
Meskipun penambang Australia banyak menggunakan metode pengeboran itu, metode itu belum pernah dicoba pada Afrika, lalu biasanya tidaklah dilaksanakan di tempat sekitar akuifer, kata para ahli pertambangan.
Meskipun prospek keuntungan finansial menimbulkan beberapa penduduk setempat menyokong prospek tambang di area area itu, usulan Rosatom juga telah terjadi menyebabkan perasaan khawatir dalam antara orang lain di dalam negara itu.
Calle Schlettwein, menteri pertanian, air, serta reformasi lahan, mengungkapkan terhadap Majelis Nasional Namibia pada tanggal 29 Februari bahwa aktivitas Headspring dapat “membahayakan air tanah” di area Namibia, Afrika Selatan, lalu Botswana, “merusak basis ekonomi untuk seluruh wilayah”.
Selain itu, oleh sebab itu keperluan untuk mendinginkan peralatan selama penambangan uranium, proses ini juga merupakan salah satu operasi yang digunakan paling membutuhkan berbagai air. Namibia menjadi lebih lanjut panas serta kering lantaran pembaharuan iklim, memproduksi penduduk lebih tinggi bergantung pada akuifer untuk menyetorkan makanan mereka pada waktu curah hujan menurun. Dengan prospek tambang uranium dan juga dampaknya yang dimaksud mengancam, petani setempat khawatir mata pencaharian merekan akan hilang – untuk selamanya.
“Polusi akan mengubah mata pencaharian orang,” kata guru sekolah Impo, sambil mengamati tanamannya, dilansir Al Jazeera.
Beberapa pemilik tanah setempat bahkan sudah pernah mulai berkampanye menentang rencana tambang uranium, memohon pemerintah untuk mempertimbangkan risiko terhadap pasokan air mereka.
“Jika penambangan uranium diizinkan, hal itu dapat menyebabkan air di area wilayah tenggara Namibia tidak ada layak untuk dikonsumsi manusia dan juga hewan, yang secara efektif akan menghentikan pertanian secara total serta permanen pada wilayah tersebut,” kata mantan presiden Namibia Agricultural Union (NAU), Piet Gouws, ketika berbicara terhadap Namibian Sun pada tahun 2022.






